Saturday, November 5, 2011

Friday, October 7, 2011

Realita dan Fiksi

oleh: Esmeralda Casamira
“Bukalah pikiranmu selebar mungkin, dan semuanya akan menjadi nyata.”—sebuah kutipan yang sangat menarik dan menggelitik nuraniku. Kutipan dari film berjudul ‘Bridge to Terabhitia’ itu seolah menjelaskan padaku bagaimana kreativitas bisa lahir dari pemikiran dan menjadi nyata. Kreativitas yang awalnya seperti fiksi, berubah menjadi realita. Sedari kecil kita sudah mendengar ribuan bahkan jutaan cerita fiksi pengantar tidur yang terkadang kita percayai. Saat kita beranjak dewasa, semua kefiksian itu berubah menjadi sebuah realita yang membunuh kreativitas kita seperti racun yang perlahan mulai melemahkan dan membunuh manusia.
Realita seolah menjajah negeri dongeng anak-anak. Tidakkah ada yang sadar bahwa Negeri dongeng anak-anak adalah bagian dari surga. Surga yang penuh dengan kebahagian dimana semua penghuninya tidak akan pernah menua. Tapi terkadang, Fiksi negeri dongeng itu memenjarakan orang-orang yang akan menjadi prajurit untuk menghadapi realita. Setidaknya membuat realita menjadi lebih mudah untuk ditangani. Manusia selalu tumbuh. Manusia tidak akan pernah berhenti untuk berkembang. Hal itu adalah Realita. Tapi, keadaan di dalam diri manusia memiliki waktu tersendiri untuk tumbuh. Hal itu adalah Fiksi.
Fiksi bukan hanya hal yang tidak nyata. Ia adalah sesuatu yang tidak terbaca seperti masa depan. Realita pun bukan hanya kenyataan. Ia juga adalah sesuatu yang sekarang dan pasti seperti takdir. Fiksi dan Realita sebenarnya bagaikan saudara kembar yang berbeda karakter. Tapi, mereka saling membutuhkan. Fiksi yang seperti masa depan perlahan tapi pasti bisa menjadi Realita. Dan, realita yang seperti takdir, juga bisa berubah menjadi fiksi meski membutuhkan waktu ribuan milenia untuk terjadi.
Semua hal di dunia ini memiliki pasangan. Pria-Wanita. Tua-Muda. Miskin-Kaya. Realita-Fiksi. Masa depan-Masa lalu. Dan sebagainya. Tapi, semua pasangan terkadang memiliki konflik yang bernama ‘Orang ketiga’. Diantara Realita dan Fiksi, konflik orang ketiganya adalah Kehidupan. Jadi, sebenarnya kehidupan itu diantara Realita dan Fiksi.
Kita manusia hanya seperti orang yang terdampar di lautan luas konflik. Terjatuh dari kapal prinsip dan terombang-ambing di ombak konsekuensi. Kita butuh segenap tim ketegaran untuk menyelamatkan kita, seluruh keyakinan untuk mengobati rasa tak enak kita karena terlalu lama terombang-ambing di ombak konsekuensi, dan jangan lupakan sebelum kita di selamatkan kita butuh tenaga untuk menarik perhatian ketegaran dan keyakinan itu untuk membawa kita dari ketidakpastian, dan abu-abu langit hujan airmata juga gemuruh rengekkan kehidupan kita. Setelah kita selamat, semua hal yang telah terjadi tampak seperti fiksi. Dan, kita mulai bisa menangani tangan-tangan realita itu.
Kesimpulannya, Dunia ini adalah Realita. Sebagian dari Realita itu adalah Fiksi. Dan, umat manusia ada diantara Realita dan Fiksi tersebut.

SEKIAN